Wednesday, 24 January 2018

Terjadi 'Government Shutdown'. di AS ,siapa yang dirugikan..

Baru baru ini pemerintah AS mengalami goncangan , akibat tidak terjadinya kesepahaman politisi elite-nya yang tak berhasil merumuskan Undang-undang (UU) tentang dana operasional pemerintahan, sehinnga terjadi lah 'government shutdown'. 
 
Memang sering terjadi perang yang memanas antara elite politisi  yaitu legislatif dan  eksekutif di dalam pembahasan anggaran di berbagai negara. Hal ini berbeda dengan Indonesia , dimana Indonesia  punya pilihan. Jika Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) tak menyetujui Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) dari pemerintah, sesuai UUD 1945 Pasal 23, pemerintah bisa menggunakan APBN tahun sebelumnya.  

Tidak begitu dengan Amerika Serikat  Jika politisi elite-nya tak berhasil merumuskan Undang-undang (UU) tentang dana operasional pemerintahan, terjadi lah 'government shutdown'.  

 Menurut catatan NBC News, pemerintah AS telah melaksanakan 19 kali 'government shutdown' sejak 1976 hingga 2018. Beberapa di antaranya terjadi hanya satu hari, antara lain di tahun 1982, 1984, 1986, dan 1987. Lainnya ada yang berlangsung lebih dari 10 hari, yakni pada 1977, 1978, dan 2013. Sementara yang terlama yakni terjadi pada 5 Desember 1995 hingga 6 Januari 1996 dengan total 21 hari. 

 Lalu apa dampaknya bagi rakyat AS apabila terjadi Government Shutdown ? . Publik AS selalu jadi pihak yang paling dirugikan. Dalam kasus awal tahun ini, CNN menurunkan sejumlah kekhawatiran yang didasarkan pada 'government shutdown' era Presiden Barack Obama. Pada 2013 terjadi 'government shutdown' selama 16 hari, atau yang terpanjang ketiga dalam sejarah. Saat itu 800.000-an pegawai negari dipaksa cuti dan 1 juta lainnya mengalami penundaan gaji. Setelah dihitung-hitung, kasus tersebut memakan total biaya $24 miliar atau $1,5 miliar per hari., 

Pasca-AS mengalami penghentian pelayanan pemerintahan (Government Shutdown), Gedung Putih langsung melansir pernyataan yang menuduh Schumer seharusnya bertanggung jawab atas insiden itu.
Sebab, karena Schumer getol memperjuangkan program perlindungan imigran anak-anak (DACA), maka Kongres dan pemerintah gagal mencapai kesepakatan soal anggaran 2018.
Schumer kemudian merespon dengan berkata bahwa seharusnya Trump-lah yang harus bertanggung jawab atas terjadinya Shutdown.
Sebab, Jumat (19/1/2018) malam sebelum tenggat waktu berakhir, Trump mengajak Schumer bertemu di Ruang Oval Gedung Putih.

Senator Schumer (nymag.com)

Dalam pertemuan yang berlangsung selama 90 menit, Trump dan Schumer terus berdiskusi tentang kemungkinan pembahasan anggaran bisa diperpanjang hingga Februari.
Schumer masih tetap berusaha memperjuangkan DACA bisa diaktifkan kembali.



Namun Pemerintahan Donald Trump menghentikan program yang mengijinkan anak-anak imigran ilegal yang datang ke Amerika saat masih berusia di bawah 16 tahun untuk bekerja, sekolah dan berdinas di militer.
Pembatalan program yang dicanangkan oleh Presiden Obama dengan nama Deferred Action for Childhood Arrivals (DACA) ini disambut demo oleh ribuan peserta DACA dan pendukungnya, yang menganggap penghentian ini tidak manusiawi dan menimbulkan ketakutan bahwa mereka terancam dideportasi ke negara asal yang tidak begitu mereka kenal lagi.

Sebagai penawaran tambahan, Schumer menyatakan siap untuk menuruti permintaan Trump mengenai anggaran pembangunan tembok perbatasan dengan Meksiko dan pertahanan.
"Saya bahkan siap untuk mendukungnya secara langsung," kata Schumer seperti dilansir NBC News.

Namun, penawaran tersebut nyatanya tidak membuat Trump tertarik sehingga pembahasan anggaran menjadi kolaps yang berujung kepada Shutdown.
"Jadi, segala kesalahan seharusnya ditimpakan ke bahu Presiden Trump. Tidak ada orang lain yang patut disalahkan selain dia," kecam Schumer.
Bahkan, di Twitter, dia memposting beberapa video penggalan wawancara Trump yang terjadi pada 2011 dan 2013.
Dalam video tersebut, Trump mengatakan, presiden adalah orang yang seharusnya menyatukan kubu yang berseberangan.
"Jadi, jika sampai terjadi Shutdown, itu bakal menjadi preseden buruk bagi seorang presiden," ujar Trump kala itu.

Schumer kemudian menambahkan caption "Trump seharusnya mengingat setiap kata-katanya ini. Shutdown ini bakal diingat sebagai Trump Shutdown". 
Sumber : dari berbagai sumber


 

NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
 

Delivered by FeedBurner